Paket travel ke bali dengan harga diskon
Powered by MaxBlogPress  

Pura Taman Ayun

Terletak di wilayah Mengwi kabupaten Badung Pura Taman Ayun adalah Pura Ibu ( Paibon) bagi kerajaaan mengwi, setiap 210 hari tepatnya selasa kliwon medangsia (menurut penghitungan tahun Saka) masyarakat sekitar Mengwi merayakan piodala pemujaaan. Pura Taman Ayun memiliki 4 halaman berbeda, yang satu lebih tinggi dengan dari yang lainnya. Halaman pertama bernama Jaba, untuk melewati ini bisa dicapai dengan melewati jembatan kolam dan pintu gerbang. Begitu masuk kita akan langsung menemui sebuah tugu kecil untuk menjaga pintu masuk dan disebelah kanan akan kita lihat sebuah bangunan luas yang disebut wantilan. Wantilan ini berfungsi sebagai tempat sabungan ayam pada saat upacara.

Di halaman ini juga kita akan dapat melihat sebuah tugu air mancur yang mengarah ke 9 arah mata angin. Di perjalanan ke areal berikutnya kita dapat melihat komplek Pura kecil yang dinamakan Pura Luhuring Purnama. Arel ketiga atau halaman kedua dengan posisi lebih tinggi dari halama pertama tadi pengunjung kan melewati pintu gerbang kedua. dan begitu kita melewati pintu ini kita akan langsung tertuju pada sebuah bangunan aling-aling pengubengan yang menggambarkan “Dewata Nawa Sanga” (9 Dewa penjaga arah mata angin).
Areal halaman terakhir atau ke empat adalah yang tertinggi dan areal yang paling suci. Pintu Gelung dengan posisi di tengah akan dibuka hanya pada saat upacara sebagai tempat keluar masuknya arca dan peralatan upacara lainnya. Sedangkan dua pintu lagi yang di kiri dan di kanan berfunsi untuk aktivitas keluar masuk kegiatan sehari hari.

Seperti yang dikisahkan dalam cerita kuno Adhiparwa, keseluruhan kompleks Pura mengambarkan gunung Mahameru yang mengapung di tengah lautan susu maka konsep tersebut juga dipakai dalam Pura Taman Ayun inu. Tiga halaman pura ini melambangkan tiga tingkat kosmologi dunia. Dari yang paling bawah ( Bhur ) adalah dunia manusia, Bwah adalah konsep dunianya para dewata (leluhur) dan (Swah) adalah tempat atau stananya Tuhan Yang Masa Esa Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Pura ini sempat hancur karena Gempa Bumi hebat yang terjadi pada 1917 dan baru sempat dipugar kembali pada tahun 1950. Candi bentar dan tugu yang tingginya mencapai 16 meter di halaman bagian dalam pura tersebut dibangun sesuai arsitektur Jawa, sedangkan tugu candi yang kecilberupa tempat duduk dari batu berjumlah 64 buah merupakan tugu leluhur jaman megalitikum untuk mengenang para ksatria yang gugur dalam medan perang.

Popularity: 14% [?]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Blogplay
  • Add to favorites
  • BarraPunto
  • Bitacoras.com
  • BlinkList
  • blogmarks
  • Blogosphere News
  • blogtercimlap
  • connotea
  • Current
  • Diigo
  • DotNetKicks
  • DZone
  • eKudos
  • email
  • Fark
  • Faves
  • Fleck
  • FriendFeed
  • FSDaily
  • Global Grind
  • Gwar
  • HackerNews
  • Haohao
  • HealthRanker
  • HelloTxt
  • Hemidemi
  • Hyves
  • Identi.ca
  • IndianPad
  • Internetmedia
  • Kirtsy
  • laaik.it
  • LinkaGoGo
  • LinkArena
  • LinkedIn
  • Linkter
  • Live
  • Meneame
  • MisterWong
  • MisterWong.DE
  • MSN Reporter
  • muti
  • MyShare
  • MySpace
  • N4G
  • Netvibes
  • Netvouz
  • NewsVine
  • NuJIJ
  • PDF
  • Ping.fm
  • Posterous
  • Propeller
  • Ratimarks
  • Rec6
  • Reddit
  • RSS
  • Scoopeo
  • Segnalo
  • Simpy
  • Slashdot
  • Socialogs
  • SphereIt
  • StumbleUpon
  • Suggest to Techmeme via Twitter
  • Technorati
  • ThisNext
  • Tipd
  • Tumblr
  • Twitter
  • Upnews
  • Webnews.de
  • Webride
  • Wikio
  • Wikio FR
  • Wikio IT
  • Wists
  • Wykop
  • Xerpi
  • Yahoo! Bookmarks
  • Yahoo! Buzz
  • Yigg

Tags: , ,

Leave a Reply