Projek I2C: Mobil Nasional SMK Jilid 2?!
Hello Semuanya, Projek I2C: Mobil Nasional SMK Jilid 2?! - Setiap kali Indonesia bicara soal mobil nasional, satu kata selalu muncul: trauma. Dari janji besar yang menguap, pabrik yang tak pernah benar-benar hidup, hingga logo merah-putih yang menempel di produk asing.
I2C (Indigenous Indonesian Car)
Maka wajar ketika proyek I2C (Indigenous Indonesian Car) diumumkan, reaksi publik bukan bangga melainkan curiga.
Pertanyaannya sederhana tapi krusial: apakah ini terobosan nyata, atau hanya pengulangan sejarah yang dibungkus lebih rapi?
Apa Itu I2C
I2C Bukan Sekadar “Karya Anak Bangsa”, Tapi Proyek Strategis Negara, mari kita kulik
Berbeda dari proyek mobil nasional sebelumnya, I2C berada di bawah naungan PT Teknologi Militer Indonesia (PT TMI) yang terhubung langsung dengan Kementerian Pertahanan.
Posisi ini membuat I2C bukan proyek idealisme komunitas atau startup, melainkan bagian dari strategi pertahanan yang diperluas ke sektor sipil.
Branding-nya pun jauh lebih elitis dan serius. Klaim terbesarnya: I2C memegang hak kekayaan intelektual (IP) mulai dari desain, body, interior, hingga rangka.
Dalam konteks mobil nasional, ini krusial. Sebab tanpa IP, sebuah mobil hanya menjadi produk tempelan, bukan industri.
Keterlibatan Italdesign, firma desain otomotif legendaris asal Italia, semakin memperkuat kesan bahwa proyek ini tidak dikerjakan asal-asalan.
Secara konsep dan niat, I2C jelas ingin berdiri di level berbeda dari kegagalan masa lalu.
Rebadge atau Strategi Industri? Jawabannya Tidak Hitam-Putih
Tuduhan “rebadge” muncul karena publik belajar dari pengalaman pahit. Namun secara teknis, I2C bukan rebadge murni seperti kasus SMK Bima.
Yang dilakukan I2C lebih tepat disebut platform sharing atau coach building praktik umum di industri otomotif global.
Baterai, motor listrik, dan sasis kemungkinan besar memang berasal dari Tiongkok, terbukti dari standar uji baterai CLTC.
Namun hal ini bukan kesalahan fatal. Membangun platform EV dari nol membutuhkan investasi triliunan rupiah dan waktu bertahun-tahun.
Analogi paling sederhana: iPhone. Layarnya dari Samsung, kameranya dari Sony, dirakit di China namun tidak ada yang menyebut iPhone sebagai produk China.
Karena nilai utamanya ada pada desain, kontrol IP, dan pengalaman pengguna. Di titik inilah I2C mencoba mengambil posisi yang sama.
Jadi Mobil Nasional I2C bukan 100% buatan Indonesia, tapi juga bukan sekadar ganti logo. Ini adalah strategi “lompat jauh” untuk membangun industri, bukan jalan idealis tapi lambat.
Masalah Terbesar I2C: Bukan Teknologi, Tapi Trauma dan Politik
Masalah utama proyek ini justru berada di luar spesifikasi teknis. Timing politik menjadi sorotan besar. I2C muncul di masa transisi pemerintahan dan erat dengan figur politik tertentu mirip pola yang pernah terjadi sebelumnya.
Selain itu, mobil yang dipamerkan masih berupa clay model, bukan kendaraan fungsional. Dalam industri otomotif, jarak dari clay model ke produksi massal bisa mencapai 3–5 tahun.
Target produksi I2C di 2027–2028 membuat publik skeptis karena terlalu sering diberi harapan jangka panjang yang tak pernah sampai garis finis.
Kekhawatiran terbesarnya sederhana:
apakah I2C akan tetap hidup ketika momentum politiknya habis?
Atau justru berhenti sebagai proyek pencitraan yang indah di pameran?
Realita Bisnis I2C
Membuat satu mobil konsep itu mudah. Membuat 10.000 mobil dengan kualitas konsisten, harga masuk akal, dan layanan purna jual yang solid itu neraka.
Pasar EV Indonesia saat ini sudah brutal:
- BYD datang dengan harga agresif dan integrasi vertikal dari tambang baterai.
- Wuling menguasai segmen entry-level.
- Hyundai mengisi kelas menengah dengan reputasi global.
Sebagai pemain baru, I2C menghadapi tantangan besar:
- Biaya produksi tinggi akibat volume kecil
- Belum punya kepercayaan pasar
- After-sales service belum terbukti
Mobil bukan produk impulsif. Ini soal keselamatan, keandalan, dan nilai jangka panjang. Tanpa jaringan bengkel, suku cadang, dan garansi yang jelas, konsumen akan ragu—seberapa nasionalis pun mereka.
Belajar dari Proton dan VinFast: Negara Harus Turun Tangan
Jika ingin optimis, Indonesia bisa belajar dari:
- Proton (Malaysia): diproteksi negara puluhan tahun, lalu membuka diri ke teknologi China agar bertahan.
- VinFast (Vietnam): agresif, mahal, berdarah-darah, tapi nyata membangun industri dari nol.
Dari sini, ada tiga kunci agar I2C tidak bernasib sama seperti proyek sebelumnya:
- Transparansi total – jujur soal asal teknologi dan spesifikasi.
- Fokus niche market – mulai dari kendaraan operasional pemerintah/militer untuk membuktikan daya tahan.
- Berhenti menjual nasionalisme – konsumen beli value, bukan slogan.
Kesimpulan
Apakah I2C mobil rebadge? Tidak sepenuhnya.
Apakah ini SMK Jilid 2? Potensinya ada, tapi pendekatannya jauh lebih profesional.
I2C berada di wilayah abu-abu antara skeptisisme dan harapan. Niatnya serius, strateginya masuk akal, tapi tantangan eksekusinya luar biasa berat.
Di tengah banjir mobil EV global, I2C tidak boleh hanya jago konsep, render, dan pameran.
Jika di 2027 nanti mobil ini benar-benar diproduksi massal, diuji di jalanan rusak, transparan soal spesifikasi, dan harganya masuk akal maka I2C layak didukung sebagai tonggak industri otomotif Indonesia.
Kabar Menarik Lain
Namun jika proyek ini menghilang begitu saja, publik tidak akan marah.
Mereka hanya akan mengangguk karena sudah terlalu sering kecewa.
Sekarang bola ada di tangan I2C. Buktikan, atau jadi catatan sejarah lagi.

Posting Komentar untuk "Projek I2C: Mobil Nasional SMK Jilid 2?!"