Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenal The Great Depression 1929, Waspadalah

Hello Semuanya, Mengenal The Great Depression 1929, Waspadalah - Kalau kita jujur, apa sebenarnya beda manusia hari ini dengan manusia seratus tahun lalu?

Jawabannya mungkin tidak banyak. Kita masih dikuasai FOMO. Kita masih tergoda janji cepat kaya.

Mengetahui The Great Depression 1929

The Great Depression 1929


Kita masih percaya bahwa “kali ini beda.” Dan tepat satu abad lalu, keyakinan yang sama itulah yang menjatuhkan dunia ke dalam jurang terdalam dalam sejarah ekonomi modern: The Great Depression 1929.

Ketika Dunia Terlena: Era “Roaring Twenties”

Semua bermula setelah Perang Dunia I berakhir pada 1918. Amerika Serikat keluar sebagai kekuatan ekonomi baru dunia. Industri berkembang pesat, teknologi bermunculan, dan masyarakat menikmati lonjakan gaya hidup.

Era ini dikenal sebagai “Roaring Twenties” dekade penuh kemewahan dan optimisme. Radio mulai menyiarkan iklan. Mobil menjadi simbol status.

Peralatan rumah tangga modern seperti kulkas dan mesin cuci mengubah kehidupan sehari-hari. Perempuan mulai bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Uang berputar cepat.

Bank pun ikut agresif. Kredit diberikan dengan mudah. Orang membeli barang bukan dengan uang yang mereka miliki, tapi dengan uang masa depan.

Dan ketika semua orang merasa kaya muncul pertanyaan berbahaya:

Kalau bisa kaya, kenapa tidak jadi jauh lebih kaya?

Jawabannya ada di pasar saham.

Pasar Saham Jadi Arena Judi Nasional

Pada akhir 1920-an, pasar saham berubah dari instrumen investasi menjadi permainan massal. Tukang semir sepatu, sopir taksi, koki restoran semua ikut membeli saham. Mereka percaya harga hanya akan naik.

Masalahnya, banyak yang membeli saham dengan uang pinjaman (margin trading). Bank hanya menyimpan sebagian kecil dana nasabah sebagai cadangan, sisanya diputar kembali ke pasar. Sistem ini menciptakan ilusi kekayaan.

Uang yang beredar sebagian besar adalah “uang semu” berbasis utang.

Di atas kertas, ekonomi terlihat kuat. Tapi di balik layar, fondasinya mulai retak.

Pabrik memproduksi terlalu banyak barang. Gudang penuh. Daya beli masyarakat stagnan. Tapi harga saham tetap meroket seolah tak ada masalah.

Sampai akhirnya, pada 24 Oktober 1929 — Black Thursday — gelembung itu pecah di New York Stock Exchange. Kepanikan melanda. Dalam hitungan hari, miliaran dolar menguap. Black Tuesday menyusul. Indeks anjlok brutal.

Itu bukan sekadar koreksi. Itu awal kehancuran.

Empat Pilar Ekonomi Runtuh Sekaligus

Mengapa hanya karena saham jatuh, seluruh negara bisa lumpuh bertahun-tahun?

Karena ekonomi berdiri di atas empat pilar: konsumsi, investasi, belanja pemerintah, dan ekspor-impor.

Ketika pasar saham runtuh:

  • Konsumsi jatuh — rakyat kehilangan uang dan berhenti belanja.
  • Investasi hancur — perusahaan tutup, investor takut bergerak.
  • Ekspor anjlok — negara lain juga ikut krisis.

Pemerintah terlambat bertindak.

Akibatnya, ekonomi Amerika terjun bebas. Pengangguran mencapai 24,9%. Bank-bank bangkrut. Nasabah kehilangan tabungan. Orang-orang mengantre roti di dapur umum. Banyak keluarga kehilangan rumah.

The Great Depression bukan sekadar krisis keuangan. Itu tragedi kemanusiaan.

Efek Domino Global dan Jalan Menuju Perang

Karena setelah Perang Dunia I, Amerika menjadi kreditur utama dunia, banyak negara Eropa bergantung pada pinjaman bank Amerika — terutama Jerman.

Ketika bank Amerika runtuh, modal ditarik mendadak dari Eropa. Sistem perbankan Jerman goyah. Pengangguran melonjak. Demokrasi dianggap gagal.

Di tengah keputusasaan itu, muncul sosok yang menawarkan harapan — Adolf Hitler. Ia tidak datang dengan janji perang, tapi dengan janji pekerjaan dan kebangkitan ekonomi. Krisis ekonomi menjadi bahan bakar fasisme.

Pada 1939, dunia kembali terbakar dalam Perang Dunia II.

The Great Depression bukan hanya krisis ekonomi. Ia adalah katalis sejarah.

Upaya Pemulihan: New Deal dan Perang

Pada 1933, Presiden Franklin D. Roosevelt meluncurkan program New Deal.

Pemerintah mulai belanja besar-besaran: membangun jalan, bendungan, jembatan, taman nasional. Tujuannya sederhana menciptakan pekerjaan dan menghidupkan kembali konsumsi.

Namun pemulihan total baru benar-benar terjadi ketika Perang Dunia II dimulai. Industri militer bergerak masif. Pabrik beroperasi 24 jam. Pengangguran hilang hampir sepenuhnya.

Ironisnya, perang yang menghancurkan dunia justru mengakhiri depresi ekonomi Amerika.

Reformasi Sistem Keuangan

Dari tragedi itu, lahir reformasi penting:

Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) untuk menjamin simpanan nasabah.

Securities and Exchange Commission (SEC) untuk mengawasi pasar saham.

Sistem keuangan modern dibangun di atas pelajaran pahit 1929.

Pelajaran untuk Zaman Sekarang

Sejarah mungkin tidak berulang persis sama, tapi polanya identik.

Pada 1929, orang percaya saham teknologi masa depan tidak mungkin rugi.

Tahun 2000, dunia percaya dot-com tidak mungkin gagal.

Beberapa tahun lalu, orang yakin kripto akan terus naik.

Hari ini, mungkin euforia ada di AI.

Instrumennya berubah. Psikologinya tidak.

Keserakahan dan ketakutan adalah dua emosi paling kuat dalam pasar. Dan jika tidak dikendalikan, keduanya bisa menghancurkan fondasi ekonomi.

Kesimpulan

The Great Depression adalah bukti bahwa krisis besar sering lahir bukan dari satu kesalahan tunggal, melainkan kombinasi euforia, utang berlebihan, regulasi lemah, dan kepanikan massal.

Ia mengajarkan bahwa:

  • Kekayaan di atas fondasi rapuh pasti runtuh.
  • Sistem keuangan tanpa pengawasan adalah bom waktu.
  • Krisis ekonomi dapat berubah menjadi krisis politik global.
  • Dan manusia, dari dulu sampai sekarang, tetap rentan terhadap FOMO.

Jadi ketika suatu investasi terdengar terlalu sempurna, terlalu cepat, terlalu pasti ingatlah tahun 1929.

Kabar lain

Karena sejarah bukan hanya cerita masa lalu. Ia adalah peringatan untuk masa depan.

Posting Komentar untuk "Mengenal The Great Depression 1929, Waspadalah"